Biografi Sedijatmo

Ketika membangun gedung, jalan-jalan dan landasan pesawat terbang, baik di Indonesia maupun di luar negeri, acap dijumpai kondisi tanah yang menyulitkan pembangunan.

Salah satu permasalahan mengenai kondisi tanah adalah kelunakannya. Untuk menanganinya dibutuhkan suatu metode khusus. Sebab tanpa metode khusus, niscaya pembangunan tidak dapat dilakukan.

Metode khusus yang bisa diterapkan adalah sebagai berikut: membuat perbaikan tanah, membuat pondasi sumuran, pondasi caisson, dan pondasi tiang pancang.

Akan tetapi, secara umum, metode khusus ini berbiaya mahal dan memakan waktu yang relatif cukup lama. Persoalan ini kemudian dipecahkan oleh Ir. Sedijatmo dengan menemukan teknik konstruksi baru yang dilabeli nama konstruksi cakar ayam.

Biodata Sedijatmo

biodata lengkap sedijatmo dan keluarganya
Sumber: kompas.com
  • Nama Lengkap: R. M. Sedyatmo
  • Nama Panggilan: Sedijatmo
  • Julukan: SI Kancil
  • Tempat Lahir: Karanganyar, Jawa Tengah
  • Tanggal Lahir: 24 Oktober 1909
  • Meninggal: 15 Juli 1984
  • Almamater: Technische Hoogeschool te Bandoeng (ITB Bandung)
  • Pekerjaan: Insinyur sipil, cendekiawan, praktisi, ilmuwan, dan guru besar ITB

Biografi Sedijatmo

biografi sedijatmo singkat
Sumber: medium.com

Kisah tentang penemuan konstruksi cakar ayam ini bermula di Pantai Cilincing, Jakarta Utara, 1961, ketika Sedijatmo piknik bersama keluarganya.

Dia, tanpa sengaja, memandang ke sebatang pohon nyiur yang meliuk dan melambai-lambai diterpa angin.

Di benaknya tersembul pertanyaan: “Mengapa nyiur mampu berdiri kokoh di tanah lunak, meski angin dan deburan ombak menerpa kencang?

Padahal, tubuhnya yang tinggi menjulang hanya ditopang akar serabut yang menunjam ke bumi tak terlalu dalam.” Akhirnya, kejadian itu sehari-hari itu menginspirasinya untuk mengatasi permasalahan yang sedang dihadapinya.

Datmo, demikian ia akrab disapa, ketika itu memang tengah memimpin proyek besar, yakni pembangunan tower listrik tegangan tinggi di daerah Ancol.

Daerah itu merupakan kawasan pantai bertanah rawa nan lembek, di mana lapisan tanah kerasnya ada di kedalaman 25 meter.

Begitulah. Ia tidak menyia-nyiakan momen tersebut. Meski saat itu usianya sudah berkepala lima, ia tetap bersemangat dan termotivasi membikin rancangan konstruksi pondasi yang cocok diterapkan di tanah tak stabil, tempat ia menggarap proyeknya.

Jadilah pondasi “berakar serabut” pipa beton penyangga konstruksi tower listrik tegangan tinggi. Nama pondasi itu adalah Pondasi Cakar Ayam.

Wujudnya berupa suatu lempengan beton bertulang (tebal antara 10 dan 15 cm) yang “mengapung” di atas tanah lembek itu.

Agar lempengan beton itu tidak menukik dan tetap kaku bila diberi beban, di bawahnya “bergantungan” sejumlah pipa beton bertulang (berdiameter 50 cm dan masing-masing berjarak 1-1,5 meter) yang secara monolitik menyatu dengan lempengan beton tadi.

Rangkaian pipa ini memanfaatkan tekanan pasif tanah lembek, terutama yang lateral (menyamping) hingga tetap vertikal.

Pipa beton ini panjangnya tidak seperti tiang pancang yang harus mencapai lapisan tanah keras. Namun, meski tak sampai mencengkeram tanah keras, kaki-kaki “cakar ayam” itu sudah cukup kuat sebagai stabilisator konstruksi yang sanggup menahan tekanan dari atas dan samping.

Padahal dengan metode konvensional, harusnya tower tersebut dibangun dengan pondasi bertiang pancang panjang yang menancap dalam hingga ke lapisan tanah keras.

Meski secara fisik mirip cara kerja pondasi konvensional, secara esensial Fondasi Cakar Ayam berbeda. Pondasi ini sangat mengandalkan tekanan pasif tanah dan gaya lateral yang diterima pelat.

Itu sebabnya, kedalaman pondasi ini tidak perlu menembus tanah keras. Bandingkan dengan pondasi tiang pancang pada umumnya yang mengandalkan daya dukung tanah keras untuk kekuatannya.

Dibandingkan dengan pondasi friction pile pun, Pondasi Cakar Ayam jauh lebih efisien, karena tak harus dilengkapi kaki-kaki panjang.

Sukses pemancangan Fondasi Cakar Ayam di Ancol itu, diikuti keberhasilan pemancangan tower-tower lainnya. Pemakaiannya meluas, tidak hanya terbatas pada konstruksi menara.

Bandara Juanda Surabaya dan Bandara Polonia Medan juga memanfaatkan kuatnya cengkeraman cakar-cakar beton temuan pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, 24 Oktober 1909 ini.

Hasil pengujian di Polonia menunjukkan bahwa Pondasi Cakar Ayam mampu mereduksi hingga 75% tekanan pada tanah di bawah landasan pacu. Konstruksi cakar ayam ini telah menunjukkan keandalannya, bahkan pasca diuji puluhan tahun.

Yang paling monumental ialah Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng. Dari 1.800 hektar (18 km persegi) pengerasan lahan di sana, 120 hektar di antaranya memanfaatkan teknologi cakar ayam.

Pemakaiannya mulai dari apron (tempat parkir pesawat terbang), taxi way, hingga landasan pacu di bandara yang tata bangunannya mendapat penghargaan arsitektur Lansekap Aga Khan pada 1995 itu.

Pondasi Cakar Ayam mencatat sejumlah kelebihan dibandingkan pondasi jenis lain. Karena pondasi ini letaknya tidak berada jauh dari permukaan tanah, pengerjaannya jauh lebih sederhana ketimbang jika harus memancang atau mengebor tanah.

Biaya yang dihemat bisa sampai 30%, karena pengerjaannya lebih cepat dan material yang diperlukan lebih sedikit.

Pondasi Cakar Ayam temuan Sedijatmo mendapatkan paten dari pelbagai Negara, yaitu Indonesia (dengan no. octrooi 1813), Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Italia, Belgia, Belanda, Denmark dan Jerman.

Sebagai sebuah teknik, Pondasi Cakar Ayam telah membuktikan mampu memberikan solusi di zamannya.

Namun, Sedijatmo tak hanya menemukan Pondasi Cakar Ayam, ayah lima anak ini juga pemegang paten pipa pesat dan penemu pompa air curug.

Bahkan, pada 1971, saat usianya mencapai 62 tahun, alumnus Technische Hoge School (THS, sekarang ITB) ini masih berkarya.

Dengan memperkenalkan teknik “Bahari Ontoseno”, sebuah sistem pembuatan jembatan di sungai yang lebar macam di Kalimantan.

Karena karyanya, maka Sedijatmo memperoleh penghargaan Bintang Mahaputra Kelas I dari pemerintah Indonesia. Pun namanya sekarang diabadikan sebagai nama jalan tol di Bandara Soekarno-Hatta hingga kini. (Lilih Prilian Ari Pranowo)

Leave a Comment